DISARPUSDA Cimahi dan Read Aloud Gelar Nobar Film “Menolak Punah”, Dorong Edukasi Lingkungan dan Literasi
Foto bersama usai kegiatan Nobar film dokumenter “Menolak Punah” yang digelar DISARPUSDA Kota Cimahi bersama Komunitas Read Aloud Kota Cimahi
CIMAHI, SalZa News – Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DISARPUSDA) Kota Cimahi bersama Komunitas Read Aloud Kota Cimahi menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter “Menolak Punah” di Aula Gedung B Pemerintah Kota Cimahi, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala DISARPUSDA Kota Cimahi, Dyah Ajuni Lukitosari, S.T., M.T., M.Sc., Kepala Bidang Perpustakaan DISARPUSDA Kota Cimahi, Rusli Sudarmadi, S.IP, Founder sekaligus Ketua Komunitas Read Aloud Kota Cimahi, Fitri Lailatul Mubarokah, Ketua Forum TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Kota Cimahi, Febri, dan anggota komunitas Read Aloud Kota Cimahi yang terdiri dari anak-anak, remaja hingga orang tua.
Kepala DISARPUSDA Kota Cimahi, Dyah Ajuni Lukitosari mengatakan bahwa kegiatan nobar ini merupakan inisiasi dari Komunitas Read Aloud Kota Cimahi sebagai salah satu komunitas peduli literasi di Kota Cimahi.

Kegiatan nobar film dokumenter “Menolak Punah” ini menjadi salah satu upaya edukasi kepada masyarakat melalui pendekatan literasi dan visual.
“Melalui film dokumenter ini masyarakat diajak lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya terkait pengelolaan sampah dan pola konsumsi sehari-hari. Kami juga ingin perpustakaan menjadi ruang edukasi yang menarik bagi masyarakat melalui kegiatan seperti nobar dan diskusi ini,” ujarnya.
Menurut Dyah, kondisi pengelolaan sampah saat ini membutuhkan perhatian bersama sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat. Ia menyebut kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi antara DISARPUSDA dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi.
“Kami terus mendorong peran komunitas peduli literasi agar ikut meningkatkan budaya literasi di Kota Cimahi, salah satunya melalui kegiatan nobar seperti ini,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan nobar tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) ke-46 yang diperingati pada 17 Mei 2026 serta Hari Kearsipan Nasional ke-55 pada 18 Mei 2026.
Terkait akses film dokumenter tersebut, Dyah menyebut saat ini film masih dalam tahap road show sehingga akses media sosial dan YouTube masih terbatas.
Dalam kesempatan itu, Dyah juga memaparkan berbagai program literasi yang dijalankan DISARPUSDA, termasuk perpustakaan keliling yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi dan sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP.
“Kalau kegiatan sekolah, kami berkolaborasi dengan Disdik dan pihak sekolah untuk mengadakan perpustakaan keliling di masing-masing sekolah,” katanya.
Ia menyebut antusias sekolah terhadap layanan perpustakaan keliling cukup tinggi. Banyak sekolah yang mendaftar sehingga pihaknya harus mengatur jadwal kunjungan secara bergiliran.
Selain di lingkungan sekolah, DISARPUSDA juga terbuka untuk berkolaborasi dalam berbagai kegiatan masyarakat dengan menghadirkan layanan perpustakaan keliling.
Dyah berharap budaya literasi masyarakat Kota Cimahi terus meningkat sehingga berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Literasi berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mudah-mudahan budaya literasi masyarakat meningkat, minat baca meningkat, dan indeks pembangunan literasi masyarakat Kota Cimahi juga ikut meningkat,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perpustakaan DISARPUSDA Kota Cimahi, Rusli Sudarmadi, S.IP., menjelaskan bahwa film dokumenter “Menolak Punah” tidak hanya membahas dunia fashion, tetapi juga mengangkat persoalan sosial dan lingkungan di balik industri fashion modern.
“Film ini mengangkat kenyataan bahwa di era fast fashion, masyarakat semakin mudah membeli pakaian murah dan mengikuti tren yang cepat berubah. Namun di balik itu ada persoalan besar yang sering tidak disadari, seperti limbah tekstil, pencemaran lingkungan hingga dampak sosial terhadap para pekerja industri garmen,” ujarnya.
Menurutnya, budaya konsumsi berlebihan membuat limbah pakaian semakin menumpuk, sementara proses produksi industri fashion juga menimbulkan pencemaran air, polusi udara, emisi karbon hingga mikroplastik yang berdampak bagi kesehatan manusia.
“Film ini mengajak kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan, para pekerja, dan lebih bijak dalam menentukan pilihan konsumsi sehari-hari,” katanya.
Rusli juga menyambut hangat gerakan literasi yang dilakukan Komunitas Read Aloud Kota Cimahi. Ia menegaskan, DISARPUSDA siap memfasilitasi kegiatan-kegiatan komunitas, khususnya yang berkaitan dengan edukasi masyarakat.
“Kami sangat mendukung gerakan dari komunitas Read Aloud ini. Tidak hanya komunitas ini saja, tetapi semua komunitas yang memiliki kegiatan edukatif untuk masyarakat akan kami fasilitasi,” ungkapnya.
Sebagai bentuk pengembangan layanan perpustakaan, pihaknya juga berencana menghadirkan studio mini bioskop di lingkungan perpustakaan Kota Cimahi.
“Kedepannya kami ingin mengubah konsep perpustakaan yang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ada studio mini bioskop untuk kegiatan edukasi dan pemutaran film dokumenter seperti ini,” jelas Rusli.
Ia berharap rencana tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah sehingga studio mini bioskop tersebut dapat segera direalisasikan dan diluncurkan untuk masyarakat.
“Mudah-mudahan ada support dari pemerintah daerah agar mini bioskop ini bisa segera launching dan semakin banyak masyarakat yang tertarik datang ke perpustakaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Founder sekaligus Ketua Komunitas Read Aloud Kota Cimahi, Fitri Lailatul Mubarokah mengatakan bahwa kegiatan nobar film “Menolak Punah” menjadi pengalaman baru bagi komunitasnya dalam menghadirkan edukasi literasi kepada masyarakat.
“Biasanya kami mengadakan kegiatan membaca nyaring bersama anak-anak dan orang tua. Melalui nobar ini kami ingin menghadirkan edukasi dengan cara yang berbeda, agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan minat baca dan literasi,” katanya.
Menurutnya, kolaborasi dengan DISARPUSDA Kota Cimahi sangat membantu komunitas literasi dalam menghadirkan kegiatan edukatif untuk masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Read Aloud memiliki konsep membaca nyaring kepada anak menggunakan buku, berbeda dengan metode mendongeng pada umumnya.
“Read aloud itu artinya membaca secara nyaring. Jadi berbeda dengan mendongeng yang biasanya bertutur menggunakan boneka, kalau kami bercerita kepada anak menggunakan buku,” jelasnya.
Menurut Fitri, poin penting dari komunitasnya adalah mengenalkan anak kepada buku sekaligus membiasakan anak beraktivitas melalui buku dalam berbagai kegiatan.
“Setiap kegiatan yang kami lakukan berbasis buku. Misalnya playdate atau sesi bermain anak, semuanya berbasis dari buku. Jadi dari buku itu bisa menghasilkan suatu karya,” katanya.
Ia menyebut, Komunitas Read Aloud Kota Cimahi berdiri sejak tahun 2022 dan kini memiliki lebih dari 150 anggota dalam grup WhatsApp serta sekitar 1.400 pengikut di Instagram.
“Untuk kegiatan rutin, kami biasanya mengadakan playdate, baca nyaring bersama, pelatihan membaca nyaring untuk orang tua maupun guru-guru,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga pernah mengadakan bimbingan teknis bagi pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), baik kelurahan maupun mandiri, agar bantuan buku dari pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk masyarakat.
Fitri mengatakan, selama ini pihaknya beberapa kali bekerja sama dengan DISARPUSDA Kota Cimahi dan selalu mendapat sambutan positif.
“Karena kami komunitas literasi, tentu memiliki kaitan erat dengan bidang perpustakaan. Alhamdulillah pihak perpustakaan Kota Cimahi selalu menyambut baik kegiatan kami, termasuk memfasilitasi tempat untuk kegiatan nobar ini,” katanya.
Menurutnya, kerja sama dengan DISARPUSDA sangat membantu karena komunitas Read Aloud belum memiliki basecamp sendiri.
Selain bekerja sama dengan perpustakaan, komunitas tersebut juga aktif melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk memberikan pelatihan membaca nyaring kepada guru maupun murid.
“Kami juga beberapa kali dilibatkan dalam kegiatan perpustakaan keliling dari Dinas Perpustakaan Kota Cimahi,” tambahnya.

Fitri berharap keberadaan komunitas Read Aloud dapat meningkatkan minat baca anak-anak melalui pemberdayaan orang tua.
“Kami ingin tidak hanya anak-anak yang diedukasi, tetapi juga orang tuanya. Karena bagaimana minat baca anak bisa tinggi kalau orang tuanya tidak diedukasi untuk mengajak anak membaca di rumah,” tutupnya.
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi ringan mengenai isi dan pesan yang disampaikan dalam film dokumenter tersebut.
(Sinta)
